Aktivis Mahasiswa Sebagai Cendekiawan Berpribadi

Designed By Bidang Medkom PC IMM Jember

“Muda atau tua tidak bergantung pada tanggal dalam suatu masa, tapi keadaan jiwa. TUgas kita bukan menambah usia pada kehidupan, tapi penambah kehidupan pada manusia”. (Myron J Taylor)

TANPA KITA sadari muncul kegalauan di hari ini tentang bagaimana menjadi seorang aktivis gerakan mahasiswa. Hari ini kita seakan-akan kehilangan jati diri di tengah kemajuan zaman. Mahasiswa yang dulu dijadikan sebagai agen perubahan sekarang berubah menjadi agen ikut – ikutan. Dahulu, mahasiswa disibukkan dengan segudang kegiatan yang mendekatkan pada dinamika sosial sehingga, membiasakan mereka peka terhadap perubahan kondisi sosial yang ada. Namun, yang menjadi pertanyaan hari ini adalah siapakah mahasiswa? Jika mengutip perkataan  Myron J Taylor di awal opini, dapat disimpulkan bahwa anak muda yang dibutuhkan bukanlah berapa lama waktu dia kuliah tapi, apa yang telah ia lakukan selama kuliah.

Ketika menjadi aktivis, fakultas hanyalah menjadi rumah singgah sementara untuk memastikan bahwa kita menjadi mahasiswa. Akan tetapi, diluar itu menjadi aktivis akan menambah kehidupan, petualangan  maupun pengalaman, dan itulah mahasiswa. Mungkin 4 atau 5 tahun  kita akan lulus kuliah dan bekerja. Jika kita punya pengalaman semasa kuliah dan tak sengaja lewat di depan kampus pasti punya banyak kisah yang masih terkenang. Entah dulu  kita pernah demo di sini, ataupun menggaet lawan jenis dunia kampus, yang seakan menjadi wahana petualangan bagi aktivis mahasiswa. Di mana ruang kelas menjadi tempat beradu gagasan dan argument. Sungguh enak bukan menjadi mahasiswa?

Baliho-baliho kampus kita hari ini seolah-olah menggambarkan suasana kampus seperti tempat rekreasi yang dilengkapi dengan segala infrastruktur di dalamnya, kendaraan operasional kampuslah yang lebih ditonjolkan daripada prestasi yang telah dicapai oleh mahasiswa ataupun kampus. Mahasiswa berpose seolah-olah tak memiliki beban selama kuliah.

Sadarkah bahwa hari ini kita sebagai sebagai mahasiswa diajarkan tentang kepatuhan yang sebegitu rupa. Jika kita lihat ruang kuliah ibarat hanya ada bangku dan meja yang teratur secara rapi, sama seperti mahasiswa hari ini kita dipaksa untuk seragam, duduk diam tidak boleh demonstrasi. Bahkan menuntut apapun dan semua harus dipercayai bahwa kampus telah melakukan yang terbaik, seakan-akan kampus adalah tempat di mana kita bisa berhasil jika kita patuh.

Anda pasti ingat betul betapa dipaksanya kita sewaktu sekolah dasar untuk menghafal hari lahir Kartini yang kita tak tau apa manfaatnya. Padahal yang paling penting bukan tanggal lahirnya, tetapi mimpi apa yang Kartini bangun. Kepatuhan yang sedemikian rupa di sekolah itu yang menjadikan kenang kita pada sekolah jarang sekali akan pelajaran melainkan pada siapa guru yang paling galak atau teman yang baik hati. Secara tidak langsung, sekolah telah membangun mimpi tentang pergaulan bukan pelajaran sehingga, kepatuhan adalah musuh pengetahuan.

Untuk menjadi seorang aktivis kita butuh pembangkangan. Sudah saatnya kita butuh kesadaran kritis untuk bertanya sebelum menyaksikan sesuatu. Dunia gerakan dimulai dari pembangkangan, tidak percaya pada dogma, tidak percaya pada doktrin dan selalu bertanya apa maksud dari sebuah peraturan. Namun, realita hari ini dunia kampus menuntut kita menjadi sesempurna yang diinginkan. Mungkin kalau bisa IPKnya paling tinggi, kalua bisa lulus cepat atau tepat. Kuliah seakan-akan menjadi volume yang sangat cepat dan menjadi mahasiswa teladan adalah mimpi semua mahasiswa. Padahal, tidak semua mahasiswa ingin mendapatkan predikat teladan. Tapi mereka memiliki keinginan untuk meraih banyak pengalaman.

Menjadi aktivis gerakan tidak dituntut untuk menjadi juara tetapi, menjadi bermanfaat bagi orang sekitar. Bukan nilai semata yang dibutuhkan, tetapi seberapa berharganya kita bagi lingkungan di sekitar kita. Mungkin seperti kita menyuaraan kritik tentang RUU KPK yang sempat menjadi UU KPK yang kemudian mengamputasi KPK. Kemudian begitu banyak mahasiswa yang turun ke jalan, padahal benar-benar tidak ada kaitannya KPK dengan IPK. Selain itu juga tidak ada jembatan kepentingan antara parlemen dengan mahasiswa. Tetapi, bagi mahasiswa tindakan parlemen tersebut sangat menyesalkan karena telah mencoreng keadilan dan kebenaran. Namun sebenarnya itu menjadi bagian hidup dari seorang mahasiswa.

Maka, kuliah itu bukan tentang pelajaran apa yang diberikan tetapi sejauh apa pentingnya pengetahuan dan apa urgensinya kita membangun budaya belajar. Itulah sebabnya seorang aktivis akan menjadi seorang pembelajar seumur hidupnya. Lantas apa yang dimaksud dengan pembelajaran? Itu adalah kecintaan kita akan pembelajaran, pengetahuan, kesukaan kita untuk berfikir ilmiah, dan lain sebagainya. Kenyataan hari ini kita ditawan oleh berbagai hoax yang membuat Sains bukan lagi menjadi pedoman tingkah laku, pengetahuan bukan menjadi pedoman perangai.

Aktivis harus tumbuh dengan kesadaran, menggunakan pengetahuan dalam mengambil keputusan apapun, yang sejajar dengan etika, dan etika pengetahuan merupakan bagian dari dirinya. Dengan gerakan mahasiswa dapat menghidupkan itu semua, kita semakin etis dan terpelajar.

Maka apa kendala kita hari ini untuk menjadi seorang aktivis? Albert Camus mengatakan “Barang  siapa yang mengatakan langit biru, padahal setengah kelabu maka ia telah melacurkan kata–kata dan mempersiapkan diri untuk berlaku tiran”. Hal yang menjadi kekhawatiran kita adalah perguruan tinggi makin lama makin manipulatif, kuliah bukan lagi mengajarkan keberanian tetapi mengajarkan kita lebih banyak ketakutan, kuliah tidak membuat kita percaya diri akan masa depan. Akan tetapi, semakin membuat kita takut menatap masa depan yang akan terjadi. Di dalam Gerakan mahasiswa kita dilatih untuk berpikir kritis, dengan demikian kita dilatih untuk selalu bertanya. Seperti pertanyaan mengapa kampus diam ketika terjadi penangan Covid yang kurang memadai. Mengapa kampus diam menyaksikan komersialisasi perguruan tinggi yang luar biasa. Kita dilatih untuk  mempertanyakan mengapa yang diajarkan di kampus itu tidak diterapkan dalam kehidupan sosial. Itulah yang disebut berpikir kritis dan mencoba meletakkan kriteria ideal dalam realitas kehidupan sehari hari.

Kampus mengajarkan bahwa jika kuliah di Fakultas Ekonomi atau Teknik, maka hidup hanya di dalamnya. Yang paling penting sebenarya adalah bagaimana kita dapat mengembangkan knsep kerja sama dan kolaborasi. Seperti halnya Bung Karno dan Bung Hatta, berasal dari latar belakang akademik yang berbeda. Tetapi, mereka bisa bekerja sama untuk memerdekakan Negeri ini. Kuliah adalah bagaimana cara kita memperagakan ilmu pengetahuan, menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan dan pengetahuan menjadi basisnya. Jika anda belajar Teknik maka andalah yang paling kritis terhadap situasi hari ini bagaimana kita bisa membangun tanpa merusak alam dengan semena-mena. Aktivis mahasiswa harus memiliki nilai lebih dalam mencetuskan ide membagi pandangan dan mengkomunikasikannya.

Di tengah kondisi hari ini masyarakat membutuhkan ide–ide yang bisa membawa perubahan ketika negara nyaris bisa dianggap tidak mampu menangani pandemic. Bahkan menyelesaikan problem ekonomi yang begitu kompleks. Maka gagasan dan aksi nyata menjadi sangat penting. Anak muda lahir melalui proposal–proposal perubahan, tahun 90-an Soeharto jatuh karena kediktatoran mahasiswa yang tampil dengan ide demokrasi yang merupakan bagian dari hasil mengkomunikasi gagasan. Maka kita membutuhkan keberanian. “Jika kau membatasi pilihan pada apa yang tampak mungkin atau masuk akal, kau memutuskan hubungan dengan apa yang benar-benar kau inginkan, dan yang tersisa hanyalah kesepakatan” (Robert Fritz).

Kita butuh apa yang ideal, itulah mimpi anak muda dan inilah masanya. Sudah saatnya aktivis mahasiswa tak hanya lantang menyuarakan atas penindasan, tapi saatnya mahasiswa kembali meramaikan ruang–ruang kelas, laboratorium, dan mari kita berikan solusi nyata bagi Negeri, menciptakan inovasi–inovasi keilmuan yang kita miliki. Jangan biarkan penipu berkedok akademisi yang jelas-jelas merusak lingkungan memanipulasi keilmuan dan membodohi rakyat. Bangsa ini membutuhkan gagasan – gagasan besar dari mahasiswa, dan aktivis mahasiswalah yang menjadi ujung tombak dari terwujudnya budaya keilmuan dan pemberontakan terhadap ketidakadilan yang mengatasnamakan keilmuan. Yang kemudian diharapkan semakin banyak bermunculan cendekiawan yang memiliki segala gagasan dengan keberanian seperti aktivis untuk menyampaikan kebenaran sebagai suatu hal yang benar tanpa memandang besar kecilnya uang sogokan.

*) Oleh Rais Nurwahyudin (Divisi Media KHM Jember)

*) Tim Medkom PC IMM Jember Menerima Opini baik Dari Kader Ataupun Alumni IMM. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Opini Dikirim Ke Alamat Email Immjember@email.com

PC IMM Jember

Website ini adalah situs resmi pimpinan cabang ikatan mahasiswa muhammadiyah (IMM Jember) kabupaten jember. situs ini dibuat dalam rangka memberi dan menyeber luaskan informasi terkait kegiatan dan hal hal yang dilakukan oleh cabang maupun komisariat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *